🌷Siapakah Avalokiteśvara?
Oleh Tirthakirti Jayawardhana dan Praviravara Jayawardhana
Avalokiteśvara merupakan perwujudan welas asih semua Buddha. Welas asih merupakan pendukung terhadap penghimpunan kebajikan yang luas, yang merupakan salah satu faktor pencapaian Kebuddhaan yang lengkap dan sempurna.
Mengapa Avalokiteśvara Penting dan Apa Hubungannya dengan Indonesia?
Welas asih – intisari Avalokiteśvara – merupakan ajaran yang banyak dipraktikkan di Indonesia ketika jaman kerajaan Sriwijaya. Pada jaman tersebut, hidup seorang guru agung bernama Serlingpa Dharmakirti yang menjadi pemegang silsilah ajaran mengenai welas asih (Bodhicitta). Kualitas agung sang Guru dan ajaran ini bahkan membuat Guru Atisa, seorang pandit agung dari India, jauh-jauh menempuh perjalanan laut selama 13 bulan dari India menuju Swarnadwipa (yang diyakini sebagai wilayah Sumatera Selatan pada jaman sekarang) dan belajar selama 12 tahun di sini.
“Bisa jadi keramahtamahan orang-orang Indonesia adalah berkat ajaran welas asih yang dulu tersebar luas dan banyak dipraktikkan di Indonesia sehingga mereka mengembangkan hati yang baik dan menurunkannya ke generasi-generasi berikutnya.” - Dagpo Rinpoche, 2014 -
Bagaimana Beliau Dikenal Secara Umum?
Avalokiteśvara banyak dikenal di Buddhisme Mahayana. Avalokiteśvara adalah Bahasa Sanskrit yang memiliki arti “Sang Penguasa yang Mengamati (Dunia) di Bawah-Nya dengan Welah Asih”. Selain itu, beliau juga sering disebut sebagai Padmapani (“Sang Pemegang Teratai”), ataupun Lokeśvara (“Sang Penguasa Dunia”). Dalam Bahasa Tibet, Avalokiteśvara dikenal dengan nama Chenrezig yang dapat diartikan sebagai “Beliau yang Tak Pernah Berhenti Mengamati Para Makhluk dengan Mata Welas Asih”.
Beliau digambarkan secara bervariasi di berbagai kebudayaan baik sebagai perempuan maupun laki-laki. Dalam tradisi Tionghoa, Avalokiteśvara dikenal juga dengan nama Guānzìzái atau Guānyīn, biasanya perempuan. Seringkali beliau digambarkan memegang vas penuh berisi amirta yang menyembuhkan penderitaan dan mengabulkan harapan semua makhluk.
Deskripsi Avalokiteśvara Tangan Seribu
Dikisahkan bahwa karena tergerak oleh welas asih agung yang tak tahan melihat penderitaan semua makhluk, Avalokiteśvara yang berwajah satu dan berlengan dua, merasa sedih dan meneteskan air mata. Karena kesedihan yang luar biasa dan berkat doa dan aspirasinya, secara seketika terwujud sebelas wajah, seribu tangan dan seribu mata untuk menjangkau dan memberikan perhatian kepada semua makhluk yang tak terhingga jumlahnya. Tetesan air dari kedua matanya kemudian mewujudkan Tara Hijau dan Tara Putih.
Tubuh Avalokiteśvara terbuat dari cahaya. Ia berdiri di atas dudukan teratai dan lapik bulan ― keduanya pada posisi mendatar. Teratai melambangkan penolakan samsara ― tekad untuk terbebas dari samsara ― dan lapik bulan melambangkan bodhicitta.
Avalokiteśvara memiliki paras usia enam belas tahun. Ia sangat indah, sehingga batin anda secara alami tertarik padanya. Ia memakai ornamen-ornamen permata, yang melambangkan enam sikap paramita.
Ia memiliki sebelas wajah; yang tersusun dalam tiga baris dengan tiga wajah. Pada tingkatan pertama, wajah di tengah berwarna putih; di sebelah kanannya (kiri anda) berwarna hijau, dan di sebelah kiri (kanan anda) berwarna merah. Di atasnya, wajah tengah berwarna hijau, yang kanan berwarna merah, dan yang kiri berwarna putih. Di atasnya lagi, wajah tengah berwarna merah, yang kanan putih, dan yang kiri hijau. Di atasnya adalah Vajrapani, titisan murka atas dasar welas asih, berwajah biru gelap dengan wajah murka dan rambut kuning berdiri ke atas. Paling atas adalah kepala merah Amitabha, damai dan tersenyum. Amitabha muncul dalam wujud seorang biksu jadi ia tidak memakai ornamen-ornamen.
Dua tangan pertama Avalokiteśvara terletak di jantung hatinya, seperti posisi tangan kita saat namaskara ― telapak tangan disatukan dengan ibu jari terselip di dalam. Ruang kosong di sekitar ibu jari mewakili sifat sunya batin, sifat alami Buddha. Ia memegang permata pengabul harapan, permata yang mengabulkan keinginan semua makhluk untuk memiliki kebahagiaan dan sebab-sebabnya serta terbebas dari semua penderitaan dan sebab-sebabnya. Di sebelah kanannya, tangan yang kedua memegang sebuah mala terbuat dari kristal.
Ketika teks berbicara tentang "tangan ketiga," bukan berarti tangan selanjutnya yang di bawah. Tangan ketiga ini adalah yang terendah pada baris pertama. Tangan tersebut dalam mudra menganugerahkan realisasi, sehingga telapak tangan terbuka ke luar dan dari tangan ini turun hujan amirta.
Tangan keempat, yang merupakan tangan di tengah, memegang roda Dharma, yang melambangkan memberikan ajaran-ajaran.
Di sisi kiri Avalokiteśvara, tangan kedua memegang teratai emas, yang melambangkan Bodhicitta. Layaknya teratai berakar dalam lumpur namun tetap tidak ternoda oleh lumpur, demikian juga seorang Bodhisatwa menetap di samsara tetapi tidak tercemar oleh segala hal dalam samsara. Tangan ketiga, yang merupakan yang paling bawah, memegang vas berisi amirta kebijaksanaan welas asih beliau. Yang keempat memegang busur dan anak panah, yang melambangkan penaklukkan terhadap empat kekuatan buruk ― yaitu, keempat mara berupa 1) kematian, 2) lima skandha, 3) kilesa, yaitu sikap dan emosi negatif yang mengganggu, dan 4) kekuatan-kekuatan pengganggu.
Sembilan ratus sembilan puluh dua tangan lainnya keluar dari kedua bahu beliau ― sebelah kiri dan kanan.
Avalokiteśvara mengenakan kulit antelop (sejenis rusa) di bahu kirinya. Ini untuk mengingatkan kepada sebuah cerita tentang seekor antelop yang memberikan hidupnya untuk mencegah dua pemburu saling menyakiti. Kedua pemburu ini licik. Mengetahui antelop ini berwelas-asih, mereka berpura-pura untuk berkelahi sehingga antelop akan mencoba menghentikan mereka. Ketika antelop melakukan hal itu, kedua pemburu tersebut menjebaknya. Pesan di balik cerita ini adalah bahwa hewan tersebut begitu berwelas-asih bahkan sampai mempertaruhkan hidupnya untuk mencegah orang lain bertengkar.
Bagaimana Hubungan antara Avalokiteśvara dengan Diri Kita?
Kita dapat terhubung dengan Avalokiteśvara dengan berbagai cara:
1. Kita bisa memikirkan Avalokiteśvara sebagai individu yang melakukan apa yang kita cita-citakan yaitu berhasil beranjak dari kondisi biasa menjadi Yang Tercerahkan; atau
2. Kita dapat melihat Avalokiteśvara sebagai perwujudan dari semua kualitas tercerahkan. Dalam hal ini, akan sangat membantu untuk mempelajari kualitas Buddha sebagaimana terdapat dalam teks-teks Dharma. Semakin akrab kita dengan kualitas Buddha, semakin mudah untuk mendapatkan perasaan terhadap Avalokiteśvara ketika kita memvisualisasikan beliau, karena kita membayangkan kualitas-kualitas tersebut bermanifestasi dalam wujud fisik Avalokiteśvara; atau
3. Kita dapat melihat Avalokiteśvara sebagai perwujudan dari makhluk tercerahkan yang kita tuju. Artinya, Avalokiteśvara adalah Buddha yang akan kita wujudkan di masa mendatang. Beliau adalah Buddha masa depan diri kita yang sekarang muncul di hadapan kita.
Lebih jauh lagi, kita juga bisa menganggap Avalokiteśvara sebagai sahabat kita. Renungkan hal ini: bisakah kita memiliki sahabat yang lebih baik daripada Sang Maha Welas Asih? Apakah ada orang yang bisa peduli kepada kita atau membantu kita lebih dari dirinya sendiri?
Kita tidak bisa dekat dengan Avalokiteśvara atau mengubah batin kita menjadi batin Avalokiteśvara jika kita marah, cemburu, selalu ingin lebih unggul, atau penuh kebencian kepada orang lain. Oleh karena itu, untuk membuat pikiran kita menjadi ladang yang baik bagi benih-benih welas asih untuk tumbuh, para Guru menyarankan kita mengikuti empat pedoman untuk praktisi metode Yoga Avalokiteśvara. Meskipun terdengar sederhana, keempat pedoman ini sulit dan bahkan dapat dianggap sebagai praktik "pertapaan", yaitu:
1. Hindari menghina orang lain ketika mereka menghina kita.
2. Hindari menjadi marah ketika orang lain marah kepada kita.
3. Hindari memukul orang lain ketika mereka memukul kita.
4. Hindari mencari-cari kesalahan orang lain ketika mereka mencari-cari kesalahan kita.
********
Detil tentang praktik penyempurnaan welas asih Avalokiteśvara, dapat Anda pelajari lebih mendalam melalui buku “Praktik Penyempurnaan Welas Asih—Penjelasan Sadhana Mahakarunika Avalokitesvara Sebelas Wajah Seribu Tangan” yang ditulis oleh Thubten Chodron.
Untuk memperoleh buku tersebut:
http://www.kadamchoeling.or.id/penerbit-kci/
Karena setiap orang yang hatinya tergerak oleh welas asih, yang secara mendalam dan tulus bertindak demi memberikan manfaat kepada makhluk lain tanpa mempedulikan reputasi, keuntungan, status sosial, maupun pengakuan, adalah ungkapan aktifitas Avalokitesvara. Cinta kasih dan welas asih adalah sasmita nyata pertanda kehadiran Avalokitesvara.
No comments:
Post a Comment